BUDIDAYA PINANG BETARA, PINANG UNGGUL ASLI JAMBI

Pinang, atau yang dalam bahasa ilmiahnya disebut sebagai Areca Catechu, merupakan salah satu jenis tumbuhan palem-paleman yang banyak dijumpai di Indonesia. Di Indonesia sendiri, banyak provinsi yang memiliki tumbuhan ini sebagai komoditas. Akan tetapi, provinsi Aceh dan Jambi adalah dua provinsi pengekspor biji pinang terbesar se-Indonesia. Dari dua provinsi ini jugalah bibit-bibit pinang unggul bermunculan; salah satunya adalah pinang betara yang berasal dari Provinsi Jambi. Jenis pinang ini bahkan dapat mengungguli varietas pinang yang berasal dari India dalam hal jumlah buah yang dapat dipanen.

http://www.bibitpinangunggul.com
Kebun pinang betara di Desa Mandala Jaya Kec. Betara, Jambi

Budidaya Pinang Betara
1. Mengapa harus pinang betara?
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pinang ini disebut-sebut sebagai varietas pinang dengan potensi jumlah buah saat panen terbesar dibandingkan dengan varietas pinang lain, misalnya pinang Mangala, Sumangala, Sree Mangala, Mohitnagar, dan Calicut yang kelimanya berasal dari India. Walaupun bukan satu-satunya varietas dari provinsi Jambi, namun jenis Betara merupakan jenis yang paling unggul. Menurut data yang dihimpun dari Balitbang Pertanian Republik Indonesia, berdasarkan produktivitas buah, Betara memiliki jumlah produksi buah yaitu 127,8 butir/pohon (Betara 1) dan 137,1 butir/pohon (Betara 2). Sedangkan varietas lain, misalnya varietas Muara Sabak 1-3 memiliki jumlah produksi buah dengan rentang 47,2 – 73,0 butir/pohonnya.

Untuk potensi produksi buah matang segar/pohon/hektar/tahun, tetap saja, kekayaan plasma nutfah di provinsi Jambi ini bisa mengalahkan varietas pinang yang berasal dari India dengan kisaran produksi hanya 10 – 18,89 kg/tahun; sedangkan varietas dari Jambi memproduksi buah pinang matang sebanyak 13,46 – 54,99 kg/pohon/hektar/tahun dengan varietas penghasil tertinggi adalah pinang Betara. Melihat tingginya total produksi jenis pinang ini, tidak ada salahnya jika para pekebun/petani memfokuskan untuk menanam pinang dari jenis ini karena bisa lebih menguntungkan.

2. Teknik budidaya
Hampir sama dengan teknik budidaya pinang pada umumnya, budidaya pinang betara harus melalui berbagai tahap; mulai dari persiapan benih, persiapan lahan penanaman, penerapan sistem penanaman, termasuk di dalamnya adalah mengatasi hama dan penyakit yang sering muncul pada tanaman pinang ini.

  1)  Persiapan benih
Jumlah benih pinang yang dibutuhkan untuk tiap hektarnya adalah sekitar 1.300 benih. Walaupun tingkat keberhasilan perkecambahan pinang tergolong tinggi, petani perlu menambahkan kurang lebih 25% dari total tersebut sebagai cadangan; sehingga untuk tiap hektarnya perlu dipersiapkan sebanyak 1.625 benih untuk disemai. Nantinya, benih ini akan ditanam dengan jarak tanam 2,7 x 2,7 meter.
Sebelum dijadikan benih, ada baiknya petani memilah-milah buah yang akan dijadikan benih pinang. Adapun kriteria yang disarankan untuk diikuti ketika memilih benih pinang adalah sebagai berikut:

  • Sebaiknya buah diambil yang ukurannya seragam dan besar, karena benih besar akan berpotensi untuk menghasilkan pinang yang berbuah besar juga.
  • Buah diambil dari pohon yang sudah aktif berproduksi; yaitu pohon yang sudah berumur lebih dari 10 tahun.
  • Buah harus matang. Untuk jenis betara, buah matang ditandai dengan warna buah oranye.
  • Terakhir, buah tidak terserang hama dan penyakit.

Untuk pemilihan bibit pinang atau penyedian bibit pinang bisa melalui “Lentera Mantang – Bibit Pinang Unggul”.

  2) Penyemaian dan perkecambahan
Selanjutnya, benih akan disemai di lahan persemaian. Untuk per hektarnya, dibutuhkan kurang lebih 4-5m2 dengan jumlah biji per m2 adalah sebanyak 400. Lalu benih yang sudah berkecambah akan ditunggu hingga akar atau tunasnya bermunculan. Tahap ini berlangsung selama 1,5-3 bulan.

Baca Juga : Penyemaian Bibit Pinang Agar Lebih Unggul

  3) Pembibitan
Benih yang sudah berkecambah akan dipindahkan ke dalam medium tanam polybag. Pembibitan akan dilakukan dalam dua tahap hingga bibit dirasa cukup untuk memenuhi kriteria berikut:

  • Bibit yang akan dipindahkan ke tahan tanam berumur antara 12-18 bulan;
  • Tinggi sekitar 60-75 cm dengan diameter dengan kondisi batang yang kekar;
  • Jumlah daun minimal 5 helai, dan
  • Tidak terserang hama dan penyakit.

Proses selanjutnya adalah persiapan lahan penanaman; yaitu dengan langkah:

  1. Pembukaan lahan
  2. Penentuan jarak tanam
  3. Pemasangan tiang ajir untuk memudahkan penentuan letak lubang tanam dan membuat jarak menjadi lebih teratur
  4. Pembuatan lubang tanam

Pinang selanjutnya dapat ditanam dengan menerapkan sistem monokultur atau tumpang sari. Jika petani memilih untuk menanam pinang dengan sistem tumpang sari, tanaman yang biasa ditanam adalah tanaman palawija (jagung, kacang-kacangan), atau tanaman komoditas lain seperti kopi, kakao, lada, atau sereh.

Budidaya pinang betara tidak begitu berbeda dengan budidaya pinang lainnya atau kelapa sawit. Pinang tidak membutuhkan air dan pupuk dalam jumlah besar. Selain itu, petani bisa juga mencari keuntungan dengan menanam tanaman lain sebab pinang baru akan berproduksi maksimal pada umur 5 tahun.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hallo Boss...
Mau pesan bibit pinang unggul berkualitas?